🌿 When Things Fall Beyond My Hands
Aku masih ingat, suatu sore saat sedang duduk di depan kelas bersama dengan teman-teman, terdengar suara notifikasi dari HP. Sebuah email yang sudah aku tunggu cukup lama. Detak jantungku berdegup cepat, aku menghela napas sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka email itu. “Maaf, Anda belum lolos tahap ini.” Itu adalah hasil dari program beasiswa yang kala itu sedang aku perjuangkan. Beberapa minggu sebelumnya, aku begadang mempersiapkan berkas, menulis esai, bahkan berlatih wawancara di depan kaca berkali-kali. Aku yakin, kali ini aku akan berhasil. Tapi kenyataannya justru sebaliknya.
Saat itu aku kecewa. Banget. Rasanya semua usahaku sia-sia. Apalagi, kedua orang tuaku sangat berharap aku bisa mendapatkan beasiswa itu. "Aku mengecewakan mereka." Pikirku saat itu. Sepanjang jalan pulang aku memikirkan bagaimana cara menyampaikan kabar ini kepada orang tuaku. Namun setelah beberapa hari, aku mulai menyadari sesuatu: mungkin ini bukan tentang aku gagal. Mungkin ini tentang bagaimana aku belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa kukendalikan. Mungkin Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik daripada rencanaku. Mungkin ada hal lain yang menungguku di masa depan.
Hidup memang seperti itu. Kadang kita sudah memberi segalanya, tapi hasilnya tetap tidak seperti yang kita harapkan. Dan ternyata, tidak apa-apa. Hidup tetap akan berjalan meski banyak hal yang terjadi di luar dugaan kita.
Dari situ, aku belajar untuk berhenti memaksa segalanya harus berjalan sesuai rencana. Aku belajar bahwa terkadang, kehilangan arah bukan berarti tersesat. Bisa jadi, itu cara hidup mengarahkan kita ke jalan yang seharusnya. Dan ternyata, itu benar. Rencana Tuhan membawaku ke sini, Institut Teknologi Bandung.